Search this blog


Home About Contact
2011-04-14

Ukuran kita adalah DIRI KITA SENDIRI  

Seringkali sifat dan karakteristik orang tidak seperti kelihatannya.
Teman saya yang pada awalnya saya kira orangnya sombong, setelah mengenal lebih jauh ternyata orangnya sangat perhatian.


Teman satunya lagi yang dulu waktu pertama kali ketemu orangnya cuek ternyata kenyataannya dia tidak seperti itu.
Tapi pernah juga kenal seseorang yang kesan pertamanya dia jutek, ternyata aslinya memang iya :-D
tapi sedikit sih...

Sering banget saya kejadian kayak begitu...
Teman yang kelihatannya biasa-biasa saja ternyata dia cerdas luar biasa, dst dst

Pepatah "Don't judge book with it's cover" betul banget!
Jangan meremehkan orang lain dan jangan terlalu mengagumi orang lain.
Ibu saya pernah bilang, jangan pernah merasa lebih dari orang lain dan jangan pernah merasa rendah dari orang lain, karena kenyataannya belum tentu begitu.

Kita sama sekali tidak tau orang lain, yang kita tau 100% adalah diri kita sendiri.
Oleh karenanya, ketika bersaing, berprestasi, ukuran lebih kita bukan orang lain tetapi diri sendiri.
Buang pikiran segini udah cukup, soalnya teman lain masih belum sampai di sini, dan jangan khawatir kalau kita masih jauh di belakang daripada teman-teman kita...

Ukuran kita adalah DIRI KITA SENDIRI!

Saya belajar dari seorang kakak kelas di SMA, ketika saya tanyakan tipsnya belajar, beliau bilang bahwa belajar itu yang terpenting bukan berapa lama kita belajar, tetapi apa yang kita dapat atau berapa banyak ilmu baru yang kita pelajari.

Rasulullah SAW dalam salah satu hadistnya bersabda, orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah orang yang merugi, orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka, dan orang yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin itulah orang yang beruntung...

That's all.. Mudah-mudahan memberikan inspirasi...
(renungan bagi diri saya sendiri juga)

Yoooooooooooooshh...! SEMANGAT!

Read More
2009-11-18

Kesuksesan Kecil yang Menyenangkan  

STIS Jakarta R 2403, 18.11.2009. Dear not-to-sleep readers, setelah kemarin postinganq yang isinya kegagalan, curhat sambil nangis-nangis, sekarang q mau curhat tentang kesuksesan kecilq sambil senyum2 bahagia. Mungkin sebenarnya ini biasa aja, tapi buat q ni hebat. Mau tahu apa?
Ceritanya...hari ini (alhamdulillah) q sukses presentasi tanpa suaraq yg ngerock. Hari ini aq nyoba ngomong pake suara biasa, (biasanya q agak teriak gitu) ternyata q jadi agak lebih rileks. Ternyata bisa didengar sekelas tanpa harus teriak. Cuma groginya belom ilang, hehehehe, yg tadinya q mau cerita banyak, akhire cuma bisa bacain slide thok. Pas grogi mulai ilang, sayangnya bagianq presentasi udah habis. :(

Tapi untung ada sesi tanya jawab. Q seneng bgt bs ngejawab beberapa pertanyaan. Meski masih grogi, apa yang ada di pikiranq tersampaikan, dan itu menyenangkan!
Q ketagihan pengen nyobain presentasi lagi... lagi dan lagi... Itung2 belajar buat seminar dan sidang skripsi tahun dpan. Yosh, saya pasti bisa! (mulai pede)

Tips buat temen2 yg kalo presentasi/ ngomong di depan umum suaranya suka nge-rock and roll (bergetar abiz karna grogi), kuncinya hanya perlu pake suaramu yg biasanya waktu ngomomng ma temen, dan santai aja.... Banyakin senyum... Pasti kamu bisa rileks... Kalo ada kesempatan ngomong, gak usah ragu2, ambil aja buat belajar. Selamat mencoba ya, yuk belajar bareng2... ^___^v

Read More
2009-11-15

Kegagalan  


RATIH:

Kegagalan merupakan pengalaman pahit. Jadikan kegagalan sebagai cambuk menuju sukses besar.-


Pesan itu datang dari ayahanda tercinta ketika beliau mengetahui hasil IP tingkat 3 q yang "terjun payung". Pesan itu kini tertempel di dinding kamar kosku di sebelah cermin. Tiap membacanya hati q teriris-iris, tahun ini q telah gagal, dan yang paling membuatq sedih hal ini membuat kedua orang tuaq kecewa.

Hari penerimaan IP tahun itu adalah hari terburuk. Q ketakutan setengah mati ketika dosen mengumumkan ada satu orang yang tinggal kelas. Q panik ketika giliranq tiba saat pengambilan transkrip itu. Q rasanya ingin cepat lari pulang ke kosan dan mngunci pintu hanya untuk melihat keterangan dalam transkrip itu. Bahkan q mulai memikirkan kemungkinan terburuk, apa yang akan kulakukan kalau q mengulang setahun ini. Benar-benar parah! Tapi dalam hati ada harapan optimisme kalau itu tidak akan terjadi. Semua akan baik-baik saja. Q naik ke tingkat 4, dan akan segera sibuk mencari topik tugas akhir. Kemudian tahun depan q wisuda. Wah, wah, wah, benar-benar perang batin dan q takut!

Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya, tanpa harus lari pulang dan mengunci pintu, q beranikan diri mengintip lembaran transkrip itu, dan, dan,
dan ternyata.......

Alhamdulillah bahwa 1 orang yang mengulang itu BUKAN aq!!!
Meski dengan IP yang turuuuuuun drastis, hari itu q bersyukur.

Malamnya, sesampai di kosan, aq memelototi nilai-nilaiku dan rasa kecewa mulai mendera kembali. Apalagi ketika q bandingkan antara IP-IP di tingkat 1 dan 2, sangat kelihatan betapa jeleknya nilai-nilaiq kali ini. Q tahu bahwa q harus melaporkan hasil IP q itu kepada bapak ibu di rumah. Apa yang harus kukatakan pada mereka??

Berpikir dan berpikir, q merasa apapun hasilnya orang tuaq harus tahu. Mereka orang-orang terdekatq, bagaimana mungkin q bisa merahasiakan ini atau bahkan berbohong yang bukan seharusnya? Dan q putuskan untuk mengatakannya malam itu juga.

Reaksi mereka?
Bapak yang q pikir akan marah, justru dengan sabar menasihatiq agar jangan sampai terulang lagi.
Ibu yang q kira akan sabar, terdengar sangat kecewa. Meskipun beliau tidak mengatakannya dengan jelas, tapi q menyadarinya.
Dan aq? Mataq berkaca-kaca, q sangat kecewa dengan diriq sendiri... Betapa lalainya aq pada kepercayaan yang telah mereka berikan. Menyedihkan.

Sekarang, setelah sekitar 3 bulan berlalu sejak saat itu, q sejujurnya masih kecewa, kalau bisa waktu diputar kembali, q ingin mengulang setahun ini dan memperbaiki semuanya.

PS: Lakukan yang terbaik, jika tidak untuk diri sendiri, lakukan itu untuk kedua orang tuamu...

Jakarta yang kelabu,

patah hati karena ulah sendiri

Read More
2009-07-05

Belajar Dari Orang Lain, Yuk…  


Ada berjuta-juta orang di dunia ini, ada berjuta-juta sifat dan karakter, ada berjuta-juta cerita juga skenario, ada berjuta-juta latar belakang kehidupan, dan kesemuanya ini tak ada yang persis sama satu pun. Semisal dihitung pake kombinasi nCr kayak gimana coba, benar-benar di luar jangkauan kita… Subhanallah, Maha Suci Allah SWT Yang Menciptakan Manusia.

Setiap orang punya daya tarik dan karakter masing-masing adalah akibat banyak faktor, yang paling utama menurut saya yaitu faktor lingkungan, keluarga dan teman. Teman saya yang lahir di keluarga petani sangat berbeda karakternya dengan teman saya yang lahir di keluarga pejabat (ya iyalah… :) ). Begitu pula dengan lingkungan pertemanan, Nabi SAW mengingatkan: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim). Sangat menarik untuk dipelajari.

Saya sangat suka mengamati orang-orang di sekitar saya (hihihi, yang merasa sebaiknya ati2… :P) dan saya belajar buaaaaaaanyaaaak sekali dari mereka.

Saya kagum pada seorang teman yang mempunyai tingkah laku yang baik kepada orang lain, baik itu yang lebih muda, sepantaran, maupun lebih tua. Dia orang pertama yang sangat pandai menjaga perasaan orang lain yang pernah saya temui. Kalo ngomong dia tuh ati-ati banget, liat kanan-kiri, kalo merasa ada satu pihak yang terlihat tidak enak hati dengan obrolan itu, dia menghaluskan kata-katanya, membesarkan hati orang tersebut. Terhadap saya, dia pendengar yang baik. Dia mendengarkan dengan baik apa yang saya ceritakan, meski kadang-kadang ngebosenin dan garing (hehehe, maaf ya), dia sangat baik menanggapinya, dan dia hafal setiap detail ceritanya di kemudian hari (padahal saya sendiri malah sudah lupa, hihihi), beda dengan saya yang super cuek, untuk teman yang suka bercerita tentang dirinya sendiri, saya adalah pendengar yang malas, saya mendengarkan tapi sebenarnya saya tidak peduli dengan apa yang diceritakan, gak ada untungnya buat saya, apalagi mengingatnya. Parah ya… Tapi berkat teman yang satu ini, saya belajar untuk lebih memperhatikan orang lain. Beda dengan hanya melihat, ketika mempraktekkannya itu sangat sulit, dan anehnya dia bisa!

Bahkan dari orang lain yang tak dikenal pun banyak pelajaran berharga, seperti belajar dari orang yang kebetulan satu bis, orang yang kita temui ketika belanja di pasar, penjual ayam ‘fried chicken’di depan kosan, banyak deh pokoknya! :)

Beberapa pelajaran saya ambil adalah ketika saya naik bis kota Jakarta (saat itu saya naik kopaja). Saya terkesan dengan sopir kopajanya, dia waktu itu menyetel (Bahasa Indonesianya apa ya? He…) radio, lagunya apa saya lupa, tapi si sopir cukup enjoy dengerinnya. Tak lama kemudian, naik seorang pengamen dengan gitarnya. Menyadari kehadiran sang pengamen, pak sopir tanpa pikir panjang mematikan radionya. Wow, suatu tenggang rasa pekerjaan yang baik di kalangan orang kecil… Perlu banget nih dipelajari buat para bisnismen-women sekarang, coba aja liat iklan televisi sekarang, banyak iklan yang sudah tidak memperhatikan etika beriklan. Dulu di pelajaran Bahasa Indonesia SD-SMA dikatakan syarat iklan salah satunya adalah tidak menyinggung pihak lain, lha… sekarang… malah justru saling menyindir terang-terangan. Kayak iklan kampanye apa gitu… :P

Yah begitulah… Mari kita banyak-banyak belajar dari orang lain.
Mudah-mudahan kita menjadi orang yang menjadi sumber inspiratif bagi orang lain, tidak hanya mempelajari tapi juga ‘dipelajari’ ^___^

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir)


Read More
2009-06-07

Kejamnya Dunia Bagi Anak - Anak  

Jumat sore kemaren q seperti biasa ngajar privat, ngopaja(naek bus kopaja- semacam bus kota kecil warna ijo di Jakarta, punya KOPerasi Angkutan JAkarta) jurusan Kampung Melayu-Mampang-Ragunan. Perjalanan biasanya cukup lama,sekitar makan waktu 45 menit, maklum, rumah adek lesnya di sebelah Trans TV pas, daerah Mampang Prapatan, Jaksel, sedangkan q kan kos di daerah deket Kampung Melayu, Jaktim. Saking bosannya q sering membawa buku bacaan, baca novel di hape, atau kadang-kadang chatting ngerum di mig33.

Sepanjang perjalanan 45 menit itu, baik berangkat maupun pulang, dari sejak pertama ngajar sampe sekarang, banyak cerita seru di kopaja, dan selalu membawa hikmah. Salah satunya begini ni, yang Jumat kemaren (5Juni09 lalu), cerita terbaru ...


Ketika kopaja yang q naiki sampe d Stasiun Tebet,naik sekelompok pengamen,terdiri dari 1 pemuda, mungkin dy kira2 umurnya setahun di atasq, dengan 2 anak kecil yang kira2 juga, keduanya masih SD, kelas 4 atau kelas 5 kayaknya. Si pemuda pegang alat musik kendang, sejenis moko ato nekara(minjem istilah sejarah smp-sma, hehehehe),sedang 1 anak kecil pegang gitar kecil, dan 1 lagi kalo gak salah pegang aqua yang diisi pasir.

Mereka nyanyinya kompak banget, lantang gak kalah kenceng ma suara kenek kopaja. Awalnya q gak begitu peduli,q lanjut aja baca buku yang di tanganq, sambil dengerin mereka nyanyi... Lagu pertama,lagu yang lumayan lagi populer nih, Wali- Cari Jodoh, enak juga didengerin, hepi siy nadanya... Q tetep konsen ke bukuku sambil sesekali nengok ke luar jendela, sampe akhirnya ketiduran (seperti biasa, hehehe).

Waktu q tersadar dari ketiduranq, langsung cek lokasi, ternyata baru nyampe daerah cafe2 di Tebet yang lumayan macet. Dan lagu Cari Jodoh-nya pun udahan, lagu yang cukup menghibur, pikirq. So, q siap2 ngrogoh recehan di tas, eh ternyata, mereka masih lanjut lagu kedua... dan di sinilah masalahnya, coba tebak lagu apa yang dinyanyiin?

Lagunya Wali juga kalo gak salah, yang judulnya Emang Dasar. Pernah denger skandal lagu itu kan? Yang dulu pernah dicekal MUI gara2 ada kata yang kasar yaitu "B*J***N". nah itu dia... Para pengamen kopaja itu nyanyinya kenceng banget. Panas rasanya kuping denger lagu itu,kata itu diucapin sering banget (liriknya emang banyak kata itu-nya sih),dan q gak biasa. Di kopaja q perhatikan ada berbagai kalangan ibu2-bapak2 gitu, tapi mereka nyanyi nyantai banget, kenceng lagi, terutama si pemuda itu tuh, yang paling hapal liriknya... hu-uuh! >.<

Duh,anak2 kecil juga pada nyanyi, gak banget deh, sebenarnya ngamen itu aja dah gak bagus buat mereka, apalagi nyanyiin lagu yang begitu, lagu-lagu dewasa. Jadi mikir, kasian ya, banyak banget pengamen cilik di Jakarta ini, harusnya gak ada pekerja di bawah umur kayak gini, harusnya mereka menikmati masa kecilnya, bermain dan belajar (jadi inget majalah Bobo, hohohoho). Di daerah kosanq termasuk daerah lumayan padat penduduk, banyaak banget anak kecil, tapi daerahnya sempit, full bangunan rumah yang berdempetan. Lagi-lagi kasian mereka, gak ada lapangan buat maen bola, sering maen di jalanan, tapi bukan jalan raya lho. Di daerah sini juga kadang-kadang ada pengamen dan pengemis anak, di masjid kampus gitu. Kalo lagi hujan, mereka juga di pinggir jalan ujan-ujanan buat jasa penyewaan payung. Beruntunglah anak-anak pedesaan, mereka meski ada yang bekerja, paling bantu2 bapaknya di sawah, sambil maen, gak kepengaruh kerasnya ibukota...prihatin rasanya :(

Meski sebenernya agak kecewa dengan lagu kedua yang mereka pilih,tapi recehanq yang udah kupegang tetep qkasih ke mereka. Q amati mereka ketika mereka turun sambil bersenda gurau, ketawa-ketawa, kelihatannya mereka menikmati profesinya... fiuhh...

Hikmah: Jadi banyak bersyukur karena dibesarkan di kota kecil yang jauh dengan kerasnya dunia (cielah...). Bagi para orang tua, jangan biarkan anak Anda bekerja, biarkan mereka menikmati masa kecilnya dengan sehat. Bagi pemerintah, disiplinkan pekerja di bawah umur, pengen deh liat Jakarta bebas gepeng dan juga pengamen... :|

Read More
2009-06-05

Bravo Magetan :]  

Magetan, ada yang gak kenal kota kecil ini? Hahaha…lucu juga, dulu rasanya hanya ada sering saya ragu-ragu memperkenalkan diri kalo saya berasal dari Magetan, saya lebih cenderung bilang saya berasal dari Jatim, soalnya sering banget orang tidak tau termasuk propinsi apakah Magetan, rata-rata mengira Magetan itu masuk propinsi Jateng. Fyuhhh... memang begini risiko kampung halaman di kota kecil.

Tapi ketika saya mulai kuliah, Magetan mulai terkenal. Bukan karena tempat wisatanya atau prestasinya, justru karena Bupati Magetan yang korupsi karena pembangunan gedung stadion olahraga dan gedung DPR, sampai-sampai beritanya masuk televisi. Huah, memalukan...

Gak nyangka lagi saya ketika bulan Mei lalu Magetan kembali menghiasi siaran-siaran layar kaca karena musibah jatuhnya pesawat Hercules di Desa Karas, Magetan. Astaga, kenapa berita-berita buruk mulu siy... >.<

Untungnya, barusan, ketika saya buka artikel berita di yahoo, saya menemukan berita yang cukup baik, setidaknya menurut saya, bahwa...

Bahwa untuk kesekian kalinya Magetan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berhasil merebut Adipura kategori kota kecil dari 75 kota pemenang dalam rangka hari lingkungan hidup sedunia 5 Juni ini. Yeeeyyy!!^^
Bangganya....
klik di sini untuk lebih detail beritanya

Pokoknya, apa-apa yang terjadi di kampung halamanku ini, saya gak peduli, saya tetep bangga jadi orang Magetan. Kalo bisa pengen penempatan yang gak jauh-jauh dari Magetan (baca: Jakarta). Hehehe...
I luuph Magetan :-*

Read More