
RATIH:
Kegagalan merupakan pengalaman pahit. Jadikan kegagalan sebagai cambuk menuju sukses besar.-
Pesan itu datang dari ayahanda tercinta ketika beliau mengetahui hasil IP tingkat 3 q yang "terjun payung". Pesan itu kini tertempel di dinding kamar kosku di sebelah cermin. Tiap membacanya hati q teriris-iris, tahun ini q telah gagal, dan yang paling membuatq sedih hal ini membuat kedua orang tuaq kecewa.
Hari penerimaan IP tahun itu adalah hari terburuk. Q ketakutan setengah mati ketika dosen mengumumkan ada satu orang yang tinggal kelas. Q panik ketika giliranq tiba saat pengambilan transkrip itu. Q rasanya ingin cepat lari pulang ke kosan dan mngunci pintu hanya untuk melihat keterangan dalam transkrip itu. Bahkan q mulai memikirkan kemungkinan terburuk, apa yang akan kulakukan kalau q mengulang setahun ini. Benar-benar parah! Tapi dalam hati ada harapan optimisme kalau itu tidak akan terjadi. Semua akan baik-baik saja. Q naik ke tingkat 4, dan akan segera sibuk mencari topik tugas akhir. Kemudian tahun depan q wisuda. Wah, wah, wah, benar-benar perang batin dan q takut!
Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya, tanpa harus lari pulang dan mengunci pintu, q beranikan diri mengintip lembaran transkrip itu, dan, dan,
dan ternyata.......
Alhamdulillah bahwa 1 orang yang mengulang itu BUKAN aq!!!
Meski dengan IP yang turuuuuuun drastis, hari itu q bersyukur.
Malamnya, sesampai di kosan, aq memelototi nilai-nilaiku dan rasa kecewa mulai mendera kembali. Apalagi ketika q bandingkan antara IP-IP di tingkat 1 dan 2, sangat kelihatan betapa jeleknya nilai-nilaiq kali ini. Q tahu bahwa q harus melaporkan hasil IP q itu kepada bapak ibu di rumah. Apa yang harus kukatakan pada mereka??
Berpikir dan berpikir, q merasa apapun hasilnya orang tuaq harus tahu. Mereka orang-orang terdekatq, bagaimana mungkin q bisa merahasiakan ini atau bahkan berbohong yang bukan seharusnya? Dan q putuskan untuk mengatakannya malam itu juga.
Reaksi mereka?
Bapak yang q pikir akan marah, justru dengan sabar menasihatiq agar jangan sampai terulang lagi.
Ibu yang q kira akan sabar, terdengar sangat kecewa. Meskipun beliau tidak mengatakannya dengan jelas, tapi q menyadarinya.
Dan aq? Mataq berkaca-kaca, q sangat kecewa dengan diriq sendiri... Betapa lalainya aq pada kepercayaan yang telah mereka berikan. Menyedihkan.
Sekarang, setelah sekitar 3 bulan berlalu sejak saat itu, q sejujurnya masih kecewa, kalau bisa waktu diputar kembali, q ingin mengulang setahun ini dan memperbaiki semuanya.
PS: Lakukan yang terbaik, jika tidak untuk diri sendiri, lakukan itu untuk kedua orang tuamu...
Jakarta yang kelabu,
patah hati karena ulah sendiri
Read More